JUDUL : JANGAN USIK CALON ISTRIKU BAB 1
IPP : Yang, sudah pulang? tanya wanita dibalik kerudung merah jambu yang sudah berdiri di depan pintu, menyambutku datang kerumahnya.
AKU : Eum. Kamu sudah makan? Aku balik bertanya itulah kebiasaanku ketika di tanya akan balik tanya sembari mengulurkan tangan padanya.
IPP : Belum. Aku nunggu Kamu yang. Mau sekaan dulu, atau makan dulu?
AKU : Huftt. Aku menghela nafas kasar. Keinginan untuk segera menyegarkan tubuh di kamar mandi mungkin harus diurungkan. Tidak tega rasanya jika wanita yang sedang bergelayut di lenganku ini harus menunda makan malamnya lebih lama lagi. Karena aku.
AKU : Mau makan dulu Ayo.?
Segera aku menariknya ke ruang makan. Setelah mencuci tangan, aku segera mengambil posisi di dekat IPP yang masih berdiri. Menunggunya menyiapkan piringku.
Seperti biasa, pertanyaan 'Kamu mau ini, ini, dan ini' selalu menghiasi meja makan kami. Bersamaan dengan anggukan kepalaku sebagai jawaban.
Sebagaimana awal-awal pacaran, meski hasil masakan wanita ini kerap kali membuat lidahku menangis, aku selalu berusaha memakannya. Sembari mengajarinya pelan-pelan, mungkin lebih tepatnya kami sama-sama belajar.
Dan sekarang, masakannya adalah favoritku. Bahkan setelah 9 bulan lebih dia membersamaiku mengarungi lika-liku kehidupan ini. Terima kasih, IPP. Kekasihku, belahan jiwaku. Satu-satunya wanita yang menjadi kelemahanku.
IPP : Gimana, enak atau ada yang kurang?
Sorot matanya harap-harap cemas menunggu. Menanti penilaian setelah suapan pertama masuk ke mulut ku. Hehe.
AKU : Ada yang kurang.
IPP : Hah?
AKU : Kurang banyak.
"Issh, Buluk ini" ketusnya dengan bibir yang sengaja dimajukan sampai beberapa senti kurang lebih 90 senti. Lucu.
AKU : Apa sih, Cantik?
IPP : YANG!
Kali ini intonasi suaranya sedikit meninggi, tapi, sama sekali tak menghilangkan kesan manja. Aku suka.
AKU : Apa, Sayang? Kangen?
Semuanya masih berjalan baik-baik saja, bahkan bisa dikatakan kami sangat bahagia. Meski hanya berdua, meski sesekali dihampiri kesunyian, tapi kerinduan selalu tersaji lebih besar di atas meja, atau di manapun saat kami bersama atau sedang terjebak dalam jarak. Mengalahkan kesepian.
Namun, sepertinya tidak lagi dengan hari ini. Seseorang baru saja menyambutku di depan pintu dengan mata sembab dan hidung memerah.
Sayang, ucapnya tersenyum, sembari meraih tanganku.
Alih-alih bertanya kenapa, aku lebih memilih diam dan mendahuluinya menuju dalam rumah. Hari ini, pekerjaanku sangat menguras tenaga. Apalagi untuk kembali terlibat pembahasan yang rumit dengan Atasanku, dan berakhir pertengkaran. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini.
Aku tahu, aku tahu apa yang telah terjadi Sama kamu saat aku tidak ada. Aku juga tahu, siapa yang telah membuat Cantiku seperti sekarang. Siapa yang telah membuat IPP menyuruhku untuk mencari wanita lain.