Apakah ini yang dirasakan Bening ketika dulu secara terang-terangan aku menjalin hubungan dengan Arunika? Atau mungkin dia lebih sakit dari ini?
"Mas, sarapan, yuk. Aku udah bikinkan nasi goreng kesukaan, Mas Budi " ucapnya suatu waktu.
Aku bergeming. Enggan menanggapi ucapannya. Bicara dengannya pun rasanya malas. Aku fokus merapikan penampilan di depan cermin. Bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Mas ...." Dia memanggil lagi. Aku mendengkus kesal.
"Kamu makan saja sendiri! Aku sudah janji sama Arunika untuk sarapan di luar," ucapku tanpa perasaan. Dia hanya menatap sejenak dengan raut kecewa, kemudian berlalu.
Tidak hanya itu, aku pun biasa menelepon Arunika di depannya, bergurau, tertawa, sembari memanggil sayang dan mengucap kata i love you.
Tidak jarang aku melihat sudut mata Bening basah menghadapi semua sikapku. Namun, saat itu hati nuraniku bagai mati. Alih-alih kasihan, aku merasa puas melihatnya menangis.
Kemudian tentu saja sakit dari segala sakit itu adalah kejadian malam itu. Ketika dengan sengaja aku meneriakkan nama Arunika, padahal kami sedang bersama.
K3 j4m, tidak berperasaan, dan b o d o h.
Aku ini benar-benar laki-laki la kn at.
Ya Allah, andai Kau beri aku kesempatan untuk mengulang waktu, aku ingin memperbaiki semua sikapku.
Akan kuperlakukan Bening sebaik mungkin. Tidak akan kusakiti dia meskipun hanya seujung kuku.
Andai aku bisa sedikit lebih bijak, berpikir jika Bening pun korban dari perjodohan ini, maka semua ini tidak akan terjadi.
Jika aku yang laki-laki saja tidak bisa menolak perjodohan ini, apalagi dia yang notabene pihak yang lemah?
"Sampai jumpa lagi, Bening. Keep smile. Assalamualaikum." Dokter Sakha memberi salam pada Bening.
"Waalaikumsalam. Hati-hati, Dokter," sahut Bening ramah, "salam sama Ibu."
"Oke." Sakha mengangguk sambil mengulas senyum, "Saya pamit, Bu. Titip, Bening." Dia juga pamit pada Ibu.
"Iya, Nak Sakha. Terima kasih sudah mengunjungi Bening," balas Ibu hangat. Beliau melangkah mengikuti laki-laki itu dari belakang, mengantarnya hingga ke teras. Tinggal aku berdua dengan Bening.
Bening lekas membuang mukanya ke dinding yang berlawanan dengan posisiku sesaat setelah pandangan kami beradu. Begitu tidak sudi dia menatap wajahku. Ada yang tercubit dalam hati. Aku menghela napas berat.
Saat dia pergi, aku merasa rindu karena dia jauh dan tidak ada di sisiku.
Sekarang dia kembali. Aku tetap merasa rindu, merasa dia masih jauh, padahal ada di dekatku.
Ini yang dinamakan aku memiliki ragamu, tetapi tidak hatimu. Menyedihkan.
Ah, kondisi bertukar. Apa yang kulakukan dulu, kini kualami sendiri.
Dulu aku mengabaikan, sekarang diabaikan.
"Bening. Mas, berangkat ke kantor, ya," pamitku. Aku melangkah lebih dekat padanya, duduk di kursi dimana tadi Sakha duduk menyuapinya.
Tidak ada sahutan. Jangankan menyahut, menoleh pun Bening tidak mau. Aku mengembuskan napas kasar.
"Hp kamu hilang, Sayang?" Aku ingat untuk menanyakan ponselnya, penasaran sebab selama dua bulan dia pergi, benda itu sama sekali tidak bisa dihubungi.
Hening. Tidak ada jawaban. Aku seolah mahkluk tak kasat mata yang suaranya pun tidak terdengar olehnya.
Ya Allah, tambahkan lagi stok sabar untukku. Mampukan aku memperjuangkan Bening kembali.
"Nanti pulang, mas, belikan hp baru. Kamu mau tipe apa?"
Lagi-lagi hening.
Rasanya aku ingin berteriak menghadapi keadaan ini. Akan tetapi, tidak mungkin kulakukan. Semua perkara ini, aku yang memulai.
"Ya, sudah. Mas belikan sesuai pilihan, mas, saja, ya."
Seperti sebelumnya, suasana tetap hening.
Ya Allah, ingin kubenturkan kepalaku ke tembok supaya sakit yang kurasakan di hati berbagi dengan kepala.
"Mas berangkat dulu, ya. Hampir telat." Aku beranjak, memberanikan diri untuk mengusap pucuk kepalanya.
Seketika dia berjengit. Kurasakan tubuhnya menegang. Matanya spontan menatap l i ar. Namun, dia tidak melakukan atau mengatakan apa-apa.
Sesungguhnya dadaku langsung sesak melihat ekspresinya. Akan tetapi, aku mencoba tetap tenang.
"Baik-baik di rumah sama Ibu, ya, Sayang. I love you." Kata cinta pertama kuucapkan padanya. Aku mengecup keningnya dalam untuk beberapa lama.
'Semoga kelak kamu bisa memaafkan dan menerima, mas, kembali, Bening. Kapan pun waktu itu tiba, mas, akan sabar menunggu.'
***
"Kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti ini, Mas Budi. Aku tidak terima!"
Arunika langsung menyambutku dengan amarahnya begitu aku memarkirkan roda duaku. Dia sengaja menungguku di tempat parkir kantor. Padahal sebentar lagi jam apel pagi dimulai. Namun, sepertinya dia tidak peduli jika harus datang terlambat.
"Maafkan aku, Aruni. Tapi, memang seperti ini semestinya. Seharusnya kita menyadari semuanya sejak awal, bahwa kita tidak berjodoh," sahutku mencoba tenang dan menenangkan. Beberapa teman kantor yang juga baru datang, memusatkan perhatiannya pada kami.
"Bu lls hit! Tidak jodoh apanya? Ini hanya akal-akalan orang tuamu saja untuk memisahkan kita! Mereka tidak pernah suka padaku."
Arunika bicara dengan berapi-api.
"Aruni, sebentar lagi jam apel pagi. Sebaiknya kamu segera ke kantor. Nanti kamu dapat teguran kalau terlambat." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku enggak peduli mau terlambat atau tidak! Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan, Mas!" Arunika rupanya paham rencanaku.
"Lalu mau kamu apa, Aruni." Aku menatapnya lelah. Sungguh aku sangat lelah dengan semua permasalahan akhir-akhir ini.
"Aku mau kamu segera menikahiku, Mas. Tepati janjimu!" tuntut Arunika.
"Maaf, Runi. Aku enggak bisa!" sahutku pelan, tetapi tegas.
"Kamu harus bisa, Mas! Kamu sudah janji!"
"Maaf, Runi. Aku enggak bisa menunaikan janjiku kali ini. Maaf." Aku menangkupkan kedua telapak tanganku di depan dada, memohon maaf darinya.
"Aku enggak butuh maaf kamu, Mas. Yang aku butuh dirimu!"
"Kamu carilah laki-laki lain yang lebih baik."
"Aku enggak mau! Yang kumau hanya kamu, Mas!"
"Aku sudah menikah, Runi."
"Ceraikan dia! Kamu sudah janji untuk menceraikan dia dan menikahiku."
"Maaf, aku enggak bisa."
"Harus bisa, Mas. Kamu harus bisa. Kamu itu milikku. Aku yang lebih dulu memiliki kamu."
"Maaf, Runi. Tapi, ikatan pernikahan itu merupakan ikatan tertinggi dari sebuah hubungan. Aku terlambat menyadari bahwa tidak ada cinta sebelum menikah. Cinta yang hakiki adalah cinta yang disatukan oleh ikatan pernikahan. Selama ini kita telah dibutakan cinta semu. Set an menutupi mata kita dengan na fsu berkedok cinta. Aku tidak bisa meninggalkan Bening. Dia istriku. Aku jatuh cinta padanya."
"Bre ngs ek kamu, Mas!" Arunika menatapku nyalang.
"Laki-laki bua ya kamu!" umpatnya kasar.
"Maaf."
"Aku enggak bisa menerima semua ini, Mas. Enggak bisa!"
"Belajarlah untuk menerima, Runi. Bahwa kita bukan jodoh."
"Enggak. Semua ini gara-gara perempuan tid ak tah u malu itu! Dia telah merebutmu dariku."
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Entah dengan cara apa agar bisa menjelaskan pada Arunika bahwa kami bukanlah jodoh. Bahwa tidak ada hubungan sebelum menikah.
Aku benar-benar tidak menyangka jika Arunika memiliki sisi yang berbeda dari yang kukenal.
Dia yang biasanya perhatian dan lembut, mengapa bisa menjadi keras dan sekasar ini? Sedikit-sedikit bicaranya mengumpat.
Apakah sakit hati telah mengubah sifat lembutnya menjadi kasar? Atau memang seperti ini kepribadiannya yang sesungguhnya? Apakah selama ini aku yang tidak bisa melihat karena begitu dibutakan oleh cinta?
"Aku tidak bisa menerima semua ini, Mas. Perempuan itu harus menanggung akibatnya."
"Apa maksud kamu, Aruni? Kamu ingin menyakiti Bening?" Aku bertanya sambil menatap nanar.
"Kita lihat saja nanti apa yang terjadi. Seharusnya dulu dia m at i saja bersama kedua orang tuanya."
"Aruni!" Aku memekik geram.
"Seharusnya kuta br ak juga dia waktu itu!"
"Maksud kamu?"
Bersambung...
"Aruni, sebentar lagi jam apel pagi. Sebaiknya kamu segera ke kantor. Nanti kamu dapat teguran kalau terlambat." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku enggak peduli mau terlambat atau tidak! Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan, Mas!" Arunika rupanya paham rencanaku.
"Lalu mau kamu apa, Aruni." Aku menatapnya lelah. Sungguh aku sangat lelah dengan semua permasalahan akhir-akhir ini.
"Aku mau kamu segera menikahiku, Mas. Tepati janjimu!" tuntut Arunika.
"Maaf, Runi. Aku enggak bisa!" sahutku pelan, tetapi tegas.
"Kamu harus bisa, Mas! Kamu sudah janji!"
"Maaf, Runi. Aku enggak bisa menunaikan janjiku kali ini. Maaf." Aku menangkupkan kedua telapak tanganku di depan dada, memohon maaf darinya.
"Aku enggak butuh maaf kamu, Mas. Yang aku butuh dirimu!"
"Kamu carilah laki-laki lain yang lebih baik."
"Aku enggak mau! Yang kumau hanya kamu, Mas!"
"Aku sudah menikah, Runi."
"Ceraikan dia! Kamu sudah janji untuk menceraikan dia dan menikahiku."
"Maaf, aku enggak bisa."
"Harus bisa, Mas. Kamu harus bisa. Kamu itu milikku. Aku yang lebih dulu memiliki kamu."
"Maaf, Runi. Tapi, ikatan pernikahan itu merupakan ikatan tertinggi dari sebuah hubungan. Aku terlambat menyadari bahwa tidak ada cinta sebelum menikah. Cinta yang hakiki adalah cinta yang disatukan oleh ikatan pernikahan. Selama ini kita telah dibutakan cinta semu. Set an menutupi mata kita dengan na fsu berkedok cinta. Aku tidak bisa meninggalkan Bening. Dia istriku. Aku jatuh cinta padanya."
"Bre ngs ek kamu, Mas!" Arunika menatapku nyalang.
"Laki-laki bua ya kamu!" umpatnya kasar.
"Maaf."
"Aku enggak bisa menerima semua ini, Mas. Enggak bisa!"
"Belajarlah untuk menerima, Runi. Bahwa kita bukan jodoh."
"Enggak. Semua ini gara-gara perempuan tid ak tah u malu itu! Dia telah merebutmu dariku."
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Entah dengan cara apa agar bisa menjelaskan pada Arunika bahwa kami bukanlah jodoh. Bahwa tidak ada hubungan sebelum menikah.
Aku benar-benar tidak menyangka jika Arunika memiliki sisi yang berbeda dari yang kukenal.
Dia yang biasanya perhatian dan lembut, mengapa bisa menjadi keras dan sekasar ini? Sedikit-sedikit bicaranya mengumpat.
Apakah sakit hati telah mengubah sifat lembutnya menjadi kasar? Atau memang seperti ini kepribadiannya yang sesungguhnya? Apakah selama ini aku yang tidak bisa melihat karena begitu dibutakan oleh cinta?
"Aku tidak bisa menerima semua ini, Mas. Perempuan itu harus menanggung akibatnya."
"Apa maksud kamu, Aruni? Kamu ingin menyakiti Bening?" Aku bertanya sambil menatap nanar.
"Kita lihat saja nanti apa yang terjadi. Seharusnya dulu dia m at i saja bersama kedua orang tuanya."
"Aruni!" Aku memekik geram.
"Seharusnya kuta br ak juga dia waktu itu!"
"Maksud kamu?"
Bersambung...